MENALAR ISLAM NUSANTARA

STAMIDIYA Selasa, 7 Maret 2017 11:28 WIB
1313x ditampilkan Galeri Headline Laman Dosen Opini Headline

MENALAR ISLAM NUSANTARA[1]

Abdul Rasid, S.Ag., M.Pd.I[2]

Wahai Saudaraku...

Kita jangan mudah terprovokasi oleh bahasa orang sebelum kita tahu sendiri bahwa bahasa itu bohong, kita jangan mudah menghakimi bahwa orang itu bersalah sebelum kita menyaksikan sendiri letak pelanggarannya, kita jangan mudah menyangka bahwa perilaku orang itu menyimpang sebelum kita tahu sendiri kebenarannya, dan kita juga jangan mudah berkata bahwa orang itu benar, karena hanya ingin orang itu juga mau mebenarkan kita. Waspadalah...

Dewasa ini Islam menghadapi banyak tantangan yang berusaha mengancam keberadaanya, tantangan tersebut merupakan bagian dari sekian banyak tantangan global yang memerangi kebudayaan Islam dan kadang-kadang tampak dalam kedok politik, pendudukan militer, dan perang kebudayaan. Semuanya seperti terjalin dalam satu kekuatan yang berupaya memperdaya Islam dan pemeluknya.

Secara Global Islam menghadapi tantangan yang sangat berat, apabila tantangan tersebut tidak di respon secara cermat oleh para pemikir Islam dengan  ikhlas dan tidak berkedok kepentingan politik ataupun golongan dapat meningkat menjadi suatu ancaman serius bagi kehidupan  dan masa depan Islam :

  1. Tantangan pertama ialah kebudayaan Islam berhadapan dengan kebudayaan barat yang sudah mengalami revolusi dalam segala aspek, kebudayaan barat sudah mulai menyerang generasi Islam melalui fase-fase psikis, sosial dan politis mulai dari hancurnya khasanah kebudayaan Islam dari masa Abbasiyah sampai sekarang masih belum bangkit dari keterlenaan menikmati perkembangan kebudayaan barat, dan bahkan menagung-agungkan hasil karya mereka yang sebenarnya mereka juga telah mengadopsi dari hasil karya orang-orang beriman. Misi besar orang barat tersebut terbingkai dalam suatu gerakan Gold, Glory, dan Gospel.[3]
  2. Tantangan kedua, bersifat intern tampak pada kejumudan produktivitas pemikiran ke-Islaman dan upaya menghalangi produktivitas tersebut. Tantangan ini telah membuat generasi muda muslim terpenjara dalam kebudayaan meterialistis penyerang dengan berbagai media massa dan teknologinya yang canggih. Para pemikir, Cendikiawan dan ULAMA muslim tidak diberi kesempatan untuk menghalau tipu daya “para penyerang“ yang membuat generasi muda muslim seperti kehilangan akal sehatnya sehigga memungut “sisa-sisa hidangan“ hasil dari pemikiran orang.
  3. Tantangan ketiga, kebudayaan yang dimiliki sebagian pemuda muslim yang sedang belajar di Negara-negara barat hanya memiliki kebudayaan barat, sehingga timbullah kesalah pahaman tentang men-tafsirkan Islam yang diprovokasikan oleh barat. Dan mereka berkampanye bahwa agama adalah musuh ilmu (pendidikan), agama adalah candu (bumerang) bagi bangsa, agama hanya mengatur hamba dan Tuhannya dan tidak berurusan dengan kehidupan, akibatnya muncullah penghancuran terhadap sistem pendidikan Islam, bagaimana tidak ?! Bukankah banyak orang Islam meninggalkan agamanya dengan dalih kebangsaan ?! Bukankah orang muslim memerangi saudaranya yang muslim atas nama nasionalisme ?!.
  4. Tantangan keempat, sistim kebudayaan Islam disebagian Negara muslim masih terpaku pada metode tradisional dan kurang merespon perkembangan zaman modern yang serba canggih, akibatnya dengan mudah para penyerang kebudayaan masuk dan merasuki pola kebudayaan baru yang menyimpang dari norma-norma ke-Islaman.
  5. Tantangan kelima, kurikulum pendidikan Islam disebagian dunia pendidikan Islam masih mengabaikan khasanah kebudayaan Islam, terutama di lembaga-lembaga formal, alasannya lembaga pendidikan formal hanya bertugas menghasilkan tenaga-tenaga terampil bagi masyarakat, sedangkan pembekalan keagamaan menjadi tugas lembaga pendidikan. keagamaan, sehingga muncullah dikotomi pendidikan Islam yang menciptakan dualisme intelektual: Intelektual keagamaan (Ulama) dan Intelektual modern (Pakar dan Politisi Islam)

Baca Jurnal Al-Fikrah Stamidiya 2006 (Abdul Rasid)

 


[1] Kajian tentang konsep Islam Nusantara dalam Jurnal Alfikrah STAMIDIYA Bangkalan.

[2] Dosen STAMIDIYA Bangkalan

[3] Gold merupakan istilah gerakan orang barat dama mencari kekayaan dengan mengeruk kekayaan bangsa lain seperti pengerukan emas di papua, tambang batu bara di Kalimantan, eksploitasi minyak di aceh, bahan rempah-rempah di Maluku, dan kekayaan laut di pulau jawa. Kita ingat bangsa Belanda dengan gerakan VOC dan sisten RODI-nya, bangsa Jepang dengan gerakan 3-A dan system ROMUSHA-nya.

Glory merupakan gerakan bangsa penjajah yang ingin menguasai bangsa lain dengan menunjukkan kekuatan, kekuasaan, kejayaan, dan kemuliaan bangsanya kepada bangsa lain. Kita ingat bagaimana bangsa Inrgris, Portugis, Spanyol, dan Belanda yang berebut kekuasaan di Asia termasuk Indonesia yang akhirnya di menagkan oleh bangsa Belanda, dan akhirnya dia menjajah bangsa Indonesia dalam kurun waktu 350 tahun lamanya, bangsa Jepang dengan gerakan asia timur raya menjajah Indonesia, dia bersaing dengan China untuk menguasai Indonesia, namun akhirnya kekuatan Jepang kalah dengan sekutu dimana penyokong modal terbesar sekutu pada waktu itu adalah China, sehingga akhirnya China menguasai dunia ekonomi di kawasan asia termasuk Indonesia. Coba bayangkan seandainya bangsa Indonesia sudah merdeka sejak 400 tahun yang lalu apa yang akan terjadi dengan kehidupan Indonesia, dan bagaimana hidup kita seharusnya sekarang?.

 Gospel adalah merupakan gerakan penyebaran agama oleh bangsa lain yang ingin menyebarkan kepercayaan Yahudi dan Nasrani dengan tujuan ingin menghancurkan dunia Islam. Indonesia pada saat kejayaan Sriwijaya yang telah menguasai Sumatera dan semenanjung melayu, Pada saat kejayaan Majapahit yang telah menguasai Nusantara sampai ke selat malaka, Negara barat yang konotasinya Hindu Budha mereka tidak merespon apa-apa karena dianggap agama dan kepercayaannya sama dengan mereka. Tetapi pada saat Indonesia mulai dikuasai oleh kerajaan Islam yang dimulai dari Samudra pasai, Aceh, demak, Mataram, Gowa, Ternate dan Tedore, bangsa-bangsa lain yang beragama Hindu Budha, atau yahudi nasrani sudah mulai rishi dan merasa terancam komunitasnya oleh perkembangan Islam di Indonesia yang kita kenal sekarang Islam Nusantara. (ISRA). Yahudi Nasrani tahu bahwa Islam tidak akan kalah hanya dengan perang fisik, Islam tidak akan hancur hanya dengan bom atom, dan Islam tidak akan kalah hanya dengan kekuatan militer. Tapi dengan semangat “zending” mereka meraka tidak akan menyerah kalah kepada Islam sampai dengan titik darah penghabisan mereka. Mereka tahu bahwa Islam memiliki kekuatan jihad dengan semangat syahid yang begitu besar yang tidak bisa dikalahkan dengan kekuatan apapun.